REVIEW

Bagaimana Indonesia menjadi Trendsetter Esports Dunia untuk Mobile Legends?

en19ma   02 Dec 2019
Bagaimana Indonesia menjadi Trendsetter Esports Dunia untuk Mobile Legends?

Sejak beberapa tahun silam, atlet esports Indonesia memang sudah mengukir prestasi hingga ke tingkat dunia. Fnatic/XcN yang berisikan para pemain Indonesia, seperti Farand Kowara, Ariyanto Sonny, dan kawan-kawannya, berhasil menjadi juara pada sejumlah kompetisi DotA tingkat internasional. Di CS:GO, ada TEAMnxl yang digawangi oleh Richard Permana, yang juga berhasil meraih sejumlah kemenangan pada beberapa turnamen tingkat internasional. Itu tadi barulah menyoal beberapa game yang keberadaan publisher-nya absen di Indonesia.

Atlet esports kita juga mengukir prestasi melalui beberapa game yang publisher-nya memang ada di Indonesia, seperti Point Blank dan AyoDance.

Meski demikian, torehan prestasi dari atlet-atlet esports Indonesia tadi belumlah berhasil menjadikan Indonesia sebagai kiblat esports dunia untuk masing-masing game-nya.

Sementara, di sisi lain, Mobile Legends: Bang Bang berpeluang besar untuk menjadikan Indonesia sebagai trendsetter esports-nya di tingkat dunia. Apa sajakah alasan-alasannya sehingga MLBB bisa menjadikan Indonesia sebagai trendsetter esports dunia? Inilah 5 alasannya. Yuk, langsung disimak saja.

Dominasi Tim-tim Indonesia di Ajang Esports Internasional

Meski sudah ada sejumlah pemain esports Indonesia yang menjadi juara di tingkat internasional, kita belum bisa dibilang mendominasi ajang tersebut di game-nya masing-masing, kecuali MLBB dan AyoDance.

Kenapa Indonesia bisa dibilang mendominasi ajang esports MLBB internasional di tahun 2019 ini? Karena, ada 2 ajang esports internasional yang ditutup dengan All-Indonesian Final. MSC 2019 (19-23 Juni 2019) yang mempertandingkan antara ONIC melawan Louvre di Grand Final. Demikian juga, dengan M1 World Championship 2019 (11-17 November 2019) yang menyuguhkan pertandingan final antara EVOS dan RRQ.

Menurut cerita dari Lucas Mao, MPL Indonesia League Commisioner, para pemain MLBB di Turki bahkan juga memperhatikan MPL Indonesia untuk mempelajari strategi dan skill permainan dari para pemain Indonesia. Tak sedikit juga, jumlah para pemain di sana yang nyatanya mengidolakan ONIC Esports.

“Ada satu cerita menarik yang kami dapatkan [di] saat menggelar turnamen di Turki [pada] bulan Juli lalu. Gamer di sana mengaku sebagai fans berat ONIC dan mengikuti perkembangan MPL Indonesia untuk meningkatkan skill bermain mereka,” ujar Lucas.

Jika ditilik, tingkat skill dan strategi permainan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kawasan lainnya jugalah yang menjadikan Eropa sebagai trendsetter olahraga sepakbola di tingkat dunia dan Amerika Serikat sebagai trendsetter olahraga bola basket di tingkat dunia.

Meski kualitas permainan tim-tim yang tinggi memang bisa membuat kita menjadi pusat perhatian, ternyata masih ada faktor penting lainnya lagi yang tak bisa diacuhkan jika kita berbicara mengenai industri game. Apakah itu?

Signifikansi Publisher Menggarap Esport Tingkat Dunia

Seperti yang sempat kami tuliskan tadi, ajang kompetitif AyoDance tingkat internasional sebenarnya juga didominasi oleh para pemain Indonesia. Namun demikian, publisher AyoDance di Indonesia berbeda dengan yang berada di negara-negara lainnya. Sedangkan, Moonton juga menjadi publisher MLBB di banyak negara-negara lainnya di dunia. Hal ini membuat mereka bisa menerapkan strategi marketing dan esports yang sama di berbagai negara.

Lucas Mao bercerita bahwa Moonton juga melakukan penetrasi pasar ke sejumlah negara, seperti Rusia, Brazil, Turki, Amerika Serikat, dan yang lainnya, untuk meningkatkan jumlah pemainnya di negara-negara tersebut. Pada saat yang bersamaan, Moonton juga akan membangun ekosistem esports di banyak negara.

"Kami tidak melihat ada kesulitan untuk meningkatkan jumlah pemain (marketing) dan membesarkan ekosistem esports di satu negara [pada] saat yang [bersamaan]. Jadi, kami bisa menjalankan [kedua] strategi itu [secara] bersama-sama,” ujar Lucas pada saat ditemui di gelaran M1 World Championship, di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia.

Membesarkan jumlah pemain game dan menghidupkan ekosistem esports sebenarnya memang dua hal yang berbeda, namun sama pentingnya. Kita akan membahas signifikansinya secara lebih lanjut di masing-masing bagiannya setelah ini.

Publisher game sendiri memegang peranan penting terkait dua target tadi. Dengan keberadaan Moonton sebagai publisher yang sama di semua wilayah, mereka bisa melakukan strategi marketing dan pembangunan ekosistem yang terintegrasi dengan arah yang sama. Hal ini sebenarnya pun sudah terbukti, karena Indonesia tidak hanya menjadi pasar terbesar untuk MLBB namun untuk beberapa game lainnya juga. Namun, karena absennya strategi marketing dan esports yang terintegrasi, game-game tersebut terbilang gagal dalam menghantarkan Indonesia untuk menjadi pusat esports-nya di dunia.

Penetrasi Pasar Gamer di Satu Negara

Manakah yang harus didahulukan antara membesarkan jumlah pemain game atau menghidupkan ekosistem esports dari sebuah game di satu negara? Hal ini memang bisa menjadi perdebatan besar tersendiri bagi para publisher game.

Untuk MLBB di Indonesia, ekosistem esports-nya memang dibangun setelah gamenya dimainkan oleh banyak orang dan komunitasnya mulai terbangun.

“Saat itu, kami juga sudah memegang data retention rate para gamer di seluruh dunia yang menunjukkan bahwa gamer memang suka bermain game MOBA, dan ada potensi besar di Asia Tenggara,” ujar Lucas saat bercerita tentang awal mula dari esports untuk MLBB di Indonesia.

“Sejak awal dirilis, kami juga sudah merasakan perkembangannya karena melihat dua hal. Pertama, banyak orang memperbincangkan MLBB di media sosial dan kami melihat gamer ternyata suka sekali bermain MOBA di ponsel mereka masing-masing. Kedua, dari data yang kami punya [pada] saat itu, angka retention [rate]-nya sungguh menakjubkan. Data itu menunjukkan banyak sekali [jumlah] gamer yang memainkannya [pada] setiap hari.”


Sampai artikel ini ditulis, Indonesia masih menyumbangkan jumlah pemain dan fans esports terbanyak untuk MLBB. Dari data viewer M1 World Championship 2019 lalu, jumlah penonton dari Indonesia bahkan mencapai 5 kali lipat lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penonton streaming yang berbahasa Inggris.

Jumlah pemain MLBB yang masif di Indonesia membuat ekosistem esports-nya menjadi tak pernah kekurangan talenta-talenta muda yang berbakat. Jumlah pemain MLBB di Indonesia jugalah yang membuat ekosistem esports dari MLBB menjadi yang paling dinamis di Tanah Air --jika dibandingkan dengan game-game lainnya di sini. Frans “Volva” Riyando, salah satu shoutcaster untuk MPL Indonesia sejak Season 1 mengatakan, “Kalau saya bilang, game ini (MLBB) adalah game yang pro rakyat. Bukan cuma memperkuat dan memperbanyak event besar di ibukota, Moonton [dari awal] juga menghidupkan komunitas-komunitas kecil di berbagai daerah. Bahkan, komunitas-komunitas ini sekarang juga bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.”

Menurutnya juga, game-game esports lain menjadi tak dinamis lagi dikarenakan adanya fakta bahwa game-game tersebut memang kehabisan suplai pemain baru.

Standarisasi Ekosistem Esports Lintas Negara

Jumlah pemain game yang besar, sayangnya, barulah langkah pertama untuk menjadikan satu negara sebagai pusat esports dunia. Langkah penting selanjutnya adalah menyoal standarisasi ekosistem esports.

Terkait dengan MLBB, ekosistem esports Indonesia sudah menjadi standar untuk ekosistem esports di negara lainnya. Konsep Mobile Legends Professional League (MPL) untuk pertama kalinya dijalankan di Indonesia, yaitu dengan digelaranya MPL ID S1 (13 Januari 2018-1 April 2018). MPL kemudian dijalankan untuk kawasan Malaysia dan Singapura. Selanjutnya, konsep MPL pun diimplementasikan di Filipina dan Myanmar.

Saat ditemui di Axiata Arena, Lucas pun bercerita mengenai rencananya untuk mengimplementasikan MPL ke negara-negara selanjutnya. Di saat yang bersamaan, Indonesia juga menjadi negara pertama dengan sistem turnamen yang berbentuk franchise untuk esports mobile game. Jika sistem franchise ini juga bisa diterapkan di negara-negara lainnya, maka Indonesia kembali menjadi tolak ukur terkait sistem turnamen tertutup untuk game mobile.

Standarisasi ekosistem esports ini juga sebenarnya merupakan suatu langkah yang penting, karena akan turut menentukan kualitas dari para pemain profesionalnya. Hal ini terlihat dari gelaran M1 World Championship. Hanya 2 tim non-MPL yang berhasil lolos ke babak Playoff, yakni 10S Gaming dari Jepang dan VEC Fantasy Main dari Vietnam. Begitulah, kenyataan yang ada jika kita berbicara soal aspek kompetitif, maka standar kompetisi di satu negara memang akan berpengaruh pada kemampuan dari para pemainnya.

Bursa Pasar Atlet Esports Tingkat Internasional

Dari semua aspek yang dibutuhkan, aspek terakhir ini yang mungkin memang masih sedikit tertinggal jika dibandingkan dengan yang lainnya. Namun, jika Indonesia benar-benar ingin menjadi pusat esports untuk MLBB, maka bursa pasar pemain esports akan menjadi sebuah elemen penting yang harus diperhatikan.

Jika kita berkaca dari sepakbola, kenapa Eropa menjadi pusat perkembangan bagi ajang kompetitifnya karena bursa transfer di sana memang sudah bersifat global. Pemain-pemain terbaik dari berbagai belahan dunia, kemungkinan besar, bermain untuk tim Eropa atau pun di liga Eropa. Di sisi lain, jika kita berbicara tentang ekosistem esports Dota 2 atau pun LoL, bursa transfer di sana juga memiliki jangkauan yang sudah mencapai tingkat internasional. Pemain Korea Selatan bisa saja bermain untuk tim Amerika Serikat. Pemain Amerika pun bisa bermain di kawasan Asia Tenggara.

Sampai hari ini, barulah ada segelintir pemain Indonesia yang bermain di luar negeri, seperti BnTeT (CS:GO) yang bermain untuk tim Tiongkok, TyLoo atau pun InYourDream (Dota 2) yang sempat bermain untuk Fnatic atau pun TNC Tigers.

MPL Indonesia sendiri memang sudah pernah mendatangkan beberapa pemain dari luar negeri, seperti SaSa yang bermain untuk ONIC. Tentunya, akan lebih menarik lagi jika lebih banyak pemain luar yang berlomba-lomba untuk bertanding di liga Indonesia. Sebaliknya, hal yang tak kalah menarik adalah jika pemain-pemain MLBB Indonesia sampai bisa ditarik untuk bermain di liga luar negeri.

Meski kelihatannya memang menarik, pasar bursa transfer pemain tingkat global masih mempunyai PR yang panjang, seperti penguasaan bahasa agar bisa berkomunikasi antar satu sama lainnya dengan lebih baik.

Penutup

Akhirnya, sampai artikel ini ditayangkan, Indonesia sebenarnya sudah bisa berbangga hati demi melihat bagaimana kita bisa begitu berpengaruhnya bagi ekosistem esports di negara-negara lainnya lewat MLBB --karena sebelumnya dan di game-game lainnya juga, ekosistem esports kita mungkin memang tidak mempunyai signifikansi atau pun relevansi hingga ke tingkat internasional. Namun, ambisi besar ini terbilang masih panjang untuk ditelusuri dan masih membutuhkan banyak hal mau pun dukungan dari berbagai entitas dalam ekosistem esports yang berada di Tanah Air.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
xnxxhamster sexoscar pornnube xnxxhamster sexoscar pornnube
To Top