REVIEW FILM

Space Sweepers, Petualangan Tukang Sampah Luar Angkasa

NanaMiku   13 Feb 2021
Space Sweepers, Petualangan Tukang Sampah Luar Angkasa

Netflix telah kedatangan satu lagi film asal Korea. Tidak tanggung-tanggung, Space Sweepers hadir eksklusif di Netflix saja. Sesuai dengan judulnya, film ini mengisahkan petualangan para tukang sampah di luar angkasa. Film ini dianggap sebagai film pertama yang bertemakan space blockbuster di Korea.

Space Sweepers mengambil setting pada tahun 2092. Di masa depan ini, bumi sudah tidak bisa lagi ditinggali oleh manusia. Hal ini disebabkan oleh iklim yang sudah rusak dan membuat pohon-pohon mati dan padang pasir bermunculan di mana-mana. Sebuah perusahaan bernama UTS berhasil membuat solusi berupa stasiun luar angkasa yang banyak dan bisa ditinggali manusia. Namun hanya orang-orang terpilih yang bisa menjadi warga UTS. Perusahaan ini dipimpin oleh James Sullivan, dan dia memiliki misi untuk mengubah Mars menjadi bumi yang baru untuk ditinggali manusia.

Sedangkan umat manusia lain yang tidak bisa menjadi warga UTS harus bertahan hidup di bumi yang penuh bencana. Banyak di antara mereka menjadi Space Sweepers atau tukang sampah luar angkasa. Mereka mengumpulkan sampah-sampah yang ada di luar angkasa, seperti satelit rusak atau pesawat luar angkasa yang rusak, untuk dijual ke UTS demi uang. Film ini menceritakan kisah The Victory, kapal tukang sampah, dan awaknya.

Awak kapal The Victory adalah Kim Tae-ho sebagai pilot, Tiger Park sebagai mekanis, Bubs adalah android yang membantu menangkap sampah, dan Captain Jang sebagai kapten. Mereka terkenal sebagai tukang sampah yang lihai merebut sampah dari tukang-tukang sampah lainnya. Petualangan di mulai ketika mereka menemukan seorang anak perempuan di dalam sampah berbentuk pesawat yang rebut.

Ternyata anak perempuan ini muncul di berita dengan nama Dorothy. Dia dikatakan adalah robot buatan organisasi teroris Black Fox yang berisikan bom hidrogen. Karena awak The Victory memiliki banyak hutang, mereka berencana untuk mengembalikan sang anak ke Black Fox tetapi dengan uang tembusan. Tidak lama kemudian, mereka pun terlibat konflik antara Black Fox dan UTS.

Sebagai penggemar cerita bertemakan luar angkasa dan sci-fi, tentunya Space Sweepers langsung menarik perhatian penulis. Sayangnya, film ini bisa dibilang kurang memuaskan, kurang sesuai dengan judulnya.

Pertama-tama mari kita lihat sisi-sisi positifnya. Akting para aktor memuaskan, berhasil membawa suasana yang sesuai dengan momen-momennya. Film ini pun berhasil menunjukan bagaimana di luar angkasa itu tidak ada lagi batasan negara. Berbagai macam tokoh dari orang Korea, orang Perancis, orang Arab, dan lainnya bisa saling berkomunikasi dengan bahasa masing-masing berkat menggunakan alat translasi otomatis. Prop yang digunakan pun terlihat nyata, benar-benar terasa seperti di dalam pesawat luar angkasa atau di stasiun luar angkasa. Karakter Bubs yang merupakan Android pun terasa nyata walau dia hanya CG.

Namun sayangnya banyak kekurangan dari Space Sweepers. Hal yang kurang memuaskan ini sayangnya melingkupi berbagai aspek, mulai dari ceritanya, visual efeknya, hingga subtitle yang hadir di Netflix.

Dari sisi visual efeknya, sebenarnya visual efek di Space Sweepers tidak ada yang kurang, CG yang dihasilkan bagus. Walau begitu, sayangnya CG dan 3D sangat terlihat di film ini, kecuali karakter Bubs. Kalau yang tidak terbiasa mungkin akan terasa terganggu.

Namun yang paling disayangkan adalah ceritanya. Tema tentang sampah luar angkasa sebenarnya sangat menarik, sayangnya film ini kurang berhasil mengeksplor tema tersebut. Jadi bisa dibilang film ini adalah film petualangan biasa, tetapi hanya memindahkan latarnya jadi luar angkasa. Yang cukup disayangkan lagi adalah tokoh antagonisnya dan juga rahasia dari tokoh-tokoh utamanya. Untuk antagonisnya, sepanjang film memang diceritakan kenapa dia sebenarnya adalah jahat, tetapi sayangnya tokoh antagonisnya tidak memiliki hubungan langsung dengan awak The Victory. Jadi ketika tokoh antagonis berhadapan langsung dengan awak The Victory, hal yang dirasakan cukup janggal. Apalagi sang film sudah mencoba menghubungkan koneksi antara awak The Victory dengan tokoh antagonis, tetapi terasa dipaksakan.

Hal yang disayangkan lainnya adalah rahasia dari para tokoh utama. Di film diungkapkan bahwa mereka adalah tokoh spesial, tapi sayangnya latar tersebut sepertinya tidak dimanfaatkan, terutama untuk sang tokoh utama Kim Tae-Ho. Di luar itu, hal yang sedikit menganggu adalah teks dari Netflix. Mungkin teksnya menggunakan basis dari suara bahasa Inggris. Namun jadi ada banyak teks yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkan.

Akhir kata, Space Sweepers bukanlah film yang jelek. Namun yang disayangkan adalah tema sampah luar angkasa yang tidak dibahas lebih detail dan juga beberapa kekurangan lainnya. Ceritanya sendiri sebenarnya cukup menarik, mengisahkan bagaimana hubungan antara awak The Victory dengan anak perempuan yang bernama Dorothy.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top