REVIEW

Bird Box, Aksi Sandra Bullock Menghindari Invasi Makhluk Tak Kasat Mata

Anduril   12 Jan 2019
Bird Box, Aksi Sandra Bullock Menghindari Invasi Makhluk Tak Kasat Mata

Pada April 2018 lalu, kami menyaksikan A Quiet Place buah karya John Karsinski di layar perak. Dalam film tersebut dikisahkan kalau ada alien yang menyerang Bumi, Alien tersebut memiliki kulit keras anti peluru, gerakan yang gesit, dan sangat peka terhadap suara, tapi mereka buta. Alhasil manusia yang tersisa harus hidup bertahan tanpa menghasilkan suara sedikitpun, demi menghindari serangan alien.

Di bulan Desember 2018 kemarin, giliran Bird Box karya Susanne Beir yang muncul di Netflix. Aplikasi yang kerap digunakan orang sebagai kanal film ini menghadirkan petualangan Sandra Bullock yang mirip-mirip dengan A Quiet Place. Bedanya ketimbang bersuara, para alien di film Bird Box tidak boleh dilihat sama sekali. Penasaran seperti apa reviewnya? Simak di bawah ini.

Review Bird Box

Film Netflix ini mengambil kisah yang berasal dari debut novel Josh Malerman yang muncul di tahun 2014. Seperti yang kami sebutkan di atas, Premis dari Bird Box adalah, bagaimana kalau di Bumi ada sebuah entitas yang bikin orang-orang yang melihatnya langsung ingin bunuh diri sehingga kamu mesti pakai penutup mata kalau mau selamat.

Film Bird Box ini naskahnya ditulis oleh Eric Heisserer yang namanya sudah dikenal lewat Lights Out (2016) dan Arrival (2016). Susanne Bier, sutradara peraih Oscar melalui film In a Better World (2010), menggarap film ini bersama Sandra Bullock (The Proposal, Gravity) dan Trevante Rhodes (Moonlight). Selain itu kamu juga akan menemukan Sarah Paulson (American Horror Story), John Malkovich (Places in the Heart), dan jajaran bintang lainnya.

Tiga buah Timeline

Seperti novelnya, film ini menyediakan tiga buah timeline yang bisa harus diikuti agar kamu mengerti apa yang sebenarnya terjadi di Bird Box.

Film ini dibuka dengan adegan Malorie (Sandra Bullock) menyampaikan kepada anak laki-laki dan perempuan di depannya, bahwa mereka akan melalui perjalanan panjang yang berat.

Malorie memberi tahu kedua anak itu dengan nada tegas, khususnya “jangan pernah membuka penutup mata” dan “pasang telinga untuk mendengarkan”. Mulai dari situ kamu bakal merasa perjalanan melintasi sungai dengan perahu itu adalah hal yang mustahil. Di saat bersamaan kamu akan dibuat bertanya-tanya apa alasan mereka melakukannya, dan apa yang terjadi sampai-sampai mereka menutup mata. Keanehan tersebut semakin bertambah begitu kamu tahu kalau mereka membawa burung.

Latar pun berganti. Kita diajak mundur pada masa lima tahun sebelumnya saat semua peristiwa bermula. Saat itu, Malorie masih hamil dan insiden bunuh diri di seluruh dunia baru saja dimulai. Dari sini, kamu bakal mengerti pentingnya penutup mata itu buat mereka.

Yap, gelombang bunuh diri terjadi di seluruh dunia karena adanya entitas yang berjalan-jalan di luar yang bila kamu sampai melihatnya, kamu akan bunuh diri dengan segera. Seperti tidak berlama-lama fokus pada latar waktu yang sama, kamu bakal diajak kembali ke perjalanan Malorie dan dua anak tadi di sungai. Mereka berusaha menuju ke sebuah tempat yang mereka harapkan aman. Namun, kamu tetap belum tahu sejauh mana perjalanan mereka dan apa sebenarnya tempat itu.

Film ini memang bakal mengajak kamu bolak-balik ke tiga latar waktu tersebut, yaitu awal mula peristiwa saat Malorie masih hamil empat bulan, setelah melahirkan, dan masa kini yang berselang lima tahun. Jadi kamu akan diajak memahami apa yang terjadi di sekitar Malorie melalui perpindahan alur yang maju-mundur ini.

Meski maju-mundur, alurnya cukup enak untuk diikuti. Namun, ada kalanya kamu bakal merasa cerita berjalan begitu lambat, karena konfliknya dihadirkan satu demi satu, tidak sekaligus di satu bagian. Hasilnya, kamu bakal bersimpati banget dengan karakter Malorie yang memang berkembang seiring berjalannya waktu.

Berjalan tanpa Penjelasan

Untuk sebuah film post-apocalypse, tentu penjelasan tentang kenapa kiamat itu terjadi, apa penyebabnya, dan bagaimana para karakter dalam film itu bertahan hidup menjadi sangat penting. Kalau sampai absen, film ini akan berubah menjadi drama semata karena terlalu banyak misteri yang tidak terungkap. Nah, Bird Box sepertinya tidak mau menghabiskan durasi buat penjelasan yang logis dari semua peristiwa itu.

Sayangnya, meski minim penjelasan, film ini justru cenderung mudah ditebak, khususnya setelah Malorie bersama dua anak yang dipanggil Boy dan Girl itu melewati arung jeram. Meski awalnya dibuka dengan ketegangan yang lumayan mengundang emosi, perasaan itu tidak bakal bertahan sampai akhir. Sebaliknya, kamu bakal dibawa melankolis dan tetap mengikuti film ini meski dalam hati kamu sudah bisa menebak-nebak akhirnya.

Kesimpulan

Diadaptasi dari novel bukan berarti sebuah film ini memiliki alur yang sama dengan novelnya. Dalam film, ada screenplay yang disesuaikan demi kebutuhan sinematik yang cuma bisa tampil sekitar dua jam penayangan. Di Bird Box pun, enggak semua hal sama banget kayak di novel.

Perbedaan yang paling terlihat adalah orang-orang di rumah. Karakter Douglas (John Malkovich) cuma ada di film. Karakter Tom pun dibuat hidup lebih lama dalam film. Perbedaan ini adalah hal yang biasa. Namun, lebih jauh lagi, bisa dibilang film Bird Box bahkan lebih manis dan positif daripada novelnya.

Bird Box Challenge

Saat ini, media sosial tengah diramaikan dengan adanya 'Bird Box Challenge'. Orang-orang yang mengikuti Bird Box Challenge harus bergerak dan melakukan kegiatan rutin sambil ditutup matanya. Kemudian kegiatan mereka difoto atau didokumentasikan oleh orang lain untuk kemudian dibagikan di internet.

Seperti yang kamu duga, kegiatan ini sangat berbahaya, karena meniadakan indra penglihatan dalam semua aktivitas, termasuk mengendarai kendaraan. Pihak Netflix sudah mengeluarkan larangan Bird Box Challenge.

Sampai saat ini Bird Box Challenge masih menjadi headline beberapa media internasional. Bahkan dalam 12 jam terakhir, Bird Box Challenge sudah muncul di dunia sport. Seperti yang dilakukan oleh Justin Turner, pemain baseball asal Dodger, Amerika.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top