REVIEW

Polar, Kisah Pembunuh Bayaran yang Pensiun di Netflix

Anduril   29 Jan 2019
Polar, Kisah Pembunuh Bayaran yang Pensiun di Netflix

Polar merupakan film Netflix yang dibuat berdasarkan webcomic karya Victor Santos yang sempat diterbitkan oleh Dark Horse Comic. Dalam film ini kita akan berkenalan dengan sosok Duncan Vizla (Mads Mikkelsen) atau yang biasa dikenal sebagai Black Kaiser (kaisar hitam) di organisasi hitam Damocles.

Pensiunnya sang Kaisar Hitam

Kisah Polar yang ada di film ini berjalan sebelum versi komiknya. Mata Duncan masih lengkap dan seperti yang kami sebutkan di atas, dia masih bekerja untuk Damocles walaupun sebentar lagi akan pensiun di usianya yang menginjak 50. Lebih tepatnya 14 hari menjelang masa pensiunnya yang dingin dan kesepian.

Para agen Damocles yang pensiun biasanya memperoleh tunjangan dana pensiun mereka dan Duncan menerima delapan juta dolar. Yang jadi masalah di sini adalah, Mr. Bunt (Matt Lucas) yang merupakan pemilik Damocles tidak mau membayar uang tersebut, dan di dalam perjanjian kerja Damocles terdapat sebuah pasal yang menyebutkan kalau pekerja mereka mati, maka uang pensiun mereka akan kembali ke perusahaan selama mereka tidak memiliki keluarga.

Dengan jumlah uang pensiun yang sangat besar, Duncan menjadi buruan utama Damocles, termasuk di dalamnya Vivian (Katheryn Winnick) yang merupakan pembunuh terkuat nomor dua di Damocles.

Pada awalnya Mr. Bunt memberikan misi bunuh diri ke Duncan dengan harga dua juta dolar. Sayang misi tersebut ternyata bisa diselesaikan dengan cepat oleh sang Black Kaiser, bahkan tanpa tergores sedikitpun. Kehilangan akal menghadapi Duncan, Mr. Bunt akhirnya mengirimkan para assassin terbaiknya untuk memburu Duncan.

Melalui Vivian, komplotan assassin tersebut mencari di mana Duncan tinggal dengan cara mengintrogasi dan menghabisi orang-orang yang pernah berhubungan langsung dengan Duncan. Ternyata tugas tersebut jauh dari kata mudah, sebab Duncan memiliki banyak aset palsu yang isinya sangat acak.

Pada sisi lainnya, Duncan yang tinggal di Triple Oak mulai berusaha hidup normal dengan memelihara anjing dan berkenalan dengan tetangganya, Camille (Vanessa Hudgens). Dapatkan para pembunuh tersebut menemukan Duncan? Atau, dapatkan Duncan hidup dengan normal?

Mirip dengan John Wick

Walaupun komiknya sudah hadir dari tahun 2012, film Polar disajikan sangat mirip dengan John Wick yang disutradarai oleh Chad Stahelski. Bahkan film ini seperti mengirimkan surat cintanya pada John Wick dengan sama-sama memelihara anjing di awal film. Sayangnya Anjing Duncan juga menemui nasib yang sama dengan anjing John Wick, hanya jauh lebih cepat saja.

Dunia Polar disajikan jauh lebih berwarna ketimbang John Wick, dengan permasalahan yang lebih komikal juga. Bisakah kamu bayangkan sebuah organisasi kriminal tidak sanggup membayar pensiun pegawainya yang hanya bernilai delapan juta dolar? Rasanya sangat lucu, mengingat Mr. Bunt digambarkan memiliki mansion mewah yang menjadi pusat kendali dari Damocles.

Walaupun digambarkan lebih komikal, film ini lebih tidak ramah anak ketimbang John Wick. Di dalamnya kami menemukan banyak sekali adegan 17 tahun plus dan daging manusia yang tercacah-cacah. Jadi jangan anggap remeh realisme yang dihadirkan Polar. Salah-salah, kamu bakal menyaksikan perut terburai atau kepala terkena kampak.

Akting Mads Mikkelsen sangat mengingatkan kami pada Keanu Reeves. Keduanya sama-sama tidak banyak bicara dan kikuk ketika bersosialisasi. Bedanya Mads Mikkelsen di film Polar lebih terlihat sebagai assassin tua yang kelelahan, sedangkan Keanu Reeves di John Wick digambarkan sedikit lebih muda.

Melalui cara berbicara dan bergerak Mikkelsen kami bisa membayangkan seperti apa dunia mengerikan yang dijalani sepanjang hidup Duncan. Betapa banyaknya pembunuhan yang dia lakukan, sehingga menghilangkan emosinya sebagai seorang manusia dan menggantinya dengan tatapan dingin yang penuh perhitungan.

Bagaimana dengan karakter lainnya? Hmm, kami tidak bisa banyak berkomentar karena akting mereka seperti tertelan oleh pesona Mads Mikkelsen dan kemampuan aktingnya. Paling satu-satunya yang terlihat sekilas hanyalah Vivian dan Camille yang memang sering muncul dalam satu frame penuh tanpa karakter lainnya.

Dari tadi kami selalu membandingkannya dengan John Wick, tapi memang kedua film ini mengambil tema yang mirip-mirip. Assassin pensiun yang kembali dipaksa terlibat dalam urusan bunuh-membunuh, yang ujung-ujungnya mengacaukan masa pensiun mereka.

Jadi kalau ada yang bilang perbandingannya agak kurang adil, yah mau bagaimana lagi, keduanya memang sangat mirip.

Kesimpulan Akhir

Seperti yang kami bilang tadi, Polar menghadirkan dunia yang lebih komikal ketimbang John Wick. Perasaan ini timbul karena Polar menghadirkan konflik yang jauh lebih sederhana dan konyol. Padahal di dalamnya kita sama-sama menemukan organisasi kriminal kelas dunia dengan sistemnya yang keren.

Walaupun film ini berjalan lurus-lurus saja, tetapi di bagian akhir kamu akan menemukan sebuah twist yang cukup menarik. Agak ketebak sih bila kamu adalah penikmat film yang selalu memperhatikan alur cerita dan petunjuk yang ada di setiap film.

Sebagai film Netflix, Polar sudah membawa apa yang kamu butuhkan di film aksi yang melibatkan sebuah organisasi assassin rahasia. Adegan aksi yang keren? Ada! Pembunuhan super yang sudah pensiun? Ada! Anjing yang mati cepat? Juga ada. Jadi kurang apa lagi? Tonton Polar karya sutradara Jonas Akerlund di Netflix.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top