REVIEW

Pengaruh Sistem Kompetisi berbentuk Liga ke Ekosistem Esports

en19ma   10 Apr 2020
Pengaruh Sistem Kompetisi berbentuk Liga ke Ekosistem Esports

Setelah menjalani 4 pekan pertandingan babak Regular Season PMPL ID 2020 Season 1 (tanggal 6-29 Maret 2020) dan babak Grand Final yang digelar pada tanggal 3-5 April 2020, Bigetron RA pada akhirnya dinobatkan sebagai sang juara; berkat performa gemilang mereka yang sangat konsisten di sepanjang musim ini. Berikut adalah hasil akhir perolehan poin dari 3 tim teratas di hari ketiga pada babak Grand Final, beserta hadiah yang berhak untuk mereka dapatkan:


Juara 1: Bigetron RA – 233 poin/4 Chicken Dinner/87 Kill – US$20.000 (sekitar Rp330,5 juta) – Berhak melaju ke PMWL 2020 dan PMPL SEA Finals 2020


Juara 2: MORPH Team – 192 poin/2 Chicken Dinner/73 Kill – US$14.000 (sekitar Rp231 juta) – Berhak melaju ke PMPL SEA Finals 2020


Juara 3: ONIC Esports – 173 poin/2 Chicken Dinner/75 Kill – US$7.0000 (sekitar Rp115 juta) – Berhak melaju ke PMPL SEA Finals 2020

PMPL ID 2020 S1 yang menyuguhkan hadiah dengan total nilai sebesar US$ 150 ribu (sekitar Rp 2,2 miliar) ini adalah sistem liga pertama yang digelar secara resmi oleh Tencent untuk PUBG Mobile di Indonesia. Biasanya, sebelum ada PMPL, format turnamen adalah opsi yang lebih sering digunakan untuk ajang-ajang kompetitif atas PUBG Mobile di Indonesia. Karena itulah, sejumlah pertanyaan tentang sistem liga dan pengaruhnya untuk ekosistem esports PUBG Mobile mungkin jadi bermunculan. Kenapa baru ada sekarang? Negara-negara mana lagi yang mempunyai PMPL selain Indonesia? Apakah ada kulminasi dari liga-liga tadi untuk tingkat dunia? Bagaimana hubungannya dengan turnamen internasional PUBG Mobile yang sudah lebih dulu ada, seperti PMCO?

Lantas, yang tak kalah penting, apakah pengaruh sebenarnya dari sistem kompetisi berbentuk liga ini ke ekosistem esports?


Agung Chaniago, Indonesia Esports Manager PUBG Mobile

Agung Chaniago, Indonesia Esports Manager PUBG Mobile, memberikan jawabannya. Ajang kompetitif yang berbentuk liga ini sebenarnya sudah ada sejak ekosistem esports PUBG Mobile muncul, namun barulah ada di tingkat Asia Tenggara. Saat ini, pertumbuhan esports sudah begitu pesat –khususnya, di Indonesia. “Jadi, kami membuat liga di Indonesia, karena kami ingin menjaga ekosistem esports dari tingkat [yang] paling bawah sampai [yang] paling atas. Liga ini juga [menjadi semacam] cara [dari] kami untuk menunjukkan bahwa siapa pun bisa [menjadi] bintang di PUBG Mobile.”

Selain di Indonesia, PMPL juga ada di Malaysia-Singapura, Thailand, Taiwan, Asia Selatan, dan Amerika. 3 tim teratas dari masing-masing negara di Asia Tenggara tersebut akan diundang lagi untuk bertanding kembali di tingkat yang lebih tinggi, yaitu PMPL SEA Finals 2020. Selanjutnya, 2 tim teratas dari ajang tersebut akan bertanding di tingkat dunia.

Lalu, apa bedanya dengan PMCO? PMCO merupakan turnamen yang dijadikan sebagai jalur ke tingkat internasional untuk negara-negara yang tidak memiliki PMPL. Saat ini, ada PMCO untuk kawasan Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

Agung pun menutup perbincangan ini dengan menjelaskan pengaruh dari sistem liga ke ekosistem esports secara keseluruhan. Menurutnya, dampak dari liga ini sangatlah baik, karena sistemnya terbuka, tidak hanya untuk tim-tim profesional saja, tapi juga untuk tim-tim semi-profesional. “Semua pemain PUBG Mobile bisa mengejar mimpinya untuk turut bertarung di PMPL Indonesia 2020 Season 2, karena kami juga membuka kesempatan [yang] seadil-adilnya lewat babak kualifikasi. Relevansinya ke tim-tim profesional juga lebih positif lagi, karena setiap tim-tim besar jadi memiliki divisi PUBG Mobile agar bisa bergabung dengan liga kami dan menjadi juara di Indonesia atau pun di dunia,” kata Agung.

Selain perwakilan dari Tencent tadi, Agustian Hwang, CEO Mineski Global Indonesia (yang juga menjadi event organizer untuk PMPL ID 2020 Season 1), dan Edwin Chia, CEO Bigetron Esports, turut berbagi pandangan mereka tentang ajang kompetitif yang berbentuk liga.


Agustian Hwang, CEO Mineski Global Indonesia

Dari sisi penonton, jika melihat esports sebagai bentuk entertainment, Agustian yang biasa disapa dengan panggilan Agus mengatakan bahwa sistem liga akan lebih memuaskan bagi penonton, karena mereka tidak cuma menikmati esports dari segi kompetisinya saja, tetapi juga dari banyak cerita dan konten-konten yang bisa dinikmati.

Edwin juga mengatakan hal yang serupa. Menurutnya, sistem liga jauh lebih baik, karena ada banyak cerita yang terjadi selama masa pertandingan. Misalnya, seperti bentuk rivalry antar tim yang akan lebih mudah untuk terbangun dengan sendirinya jika dibandingkan dengan sistem turnamen yang bisa saja hanya bakal berakhir dalam waktu 2 hari. Dari sisi performa tim, sistem liga juga mampu menjadi indikator yang lebih baik, karena ada lebih banyak pertandingan yang harus dijalani dalam durasi yang lebih lama. Sedangkan, di format turnamen, sebuah tim bisa saja menjadi juara jika mengalami keberuntungan selama turnamen sedang berjalan.

Itu tadi barulah dari sisi esports sebagai tontonan. Lantas, bagaimana dari sisi bisnis? Sistem seperti apakah yang lebih menguntungkan bagi sponsor kompetisi?


Edwin Chia, CEO Bigetron Esports

“Untuk perspektif bisnis, saya kira, sponsor [akan] lebih yakin dalam mendukung sistem liga. [Jika] dibanding dengan sistem turnamen yang kompetisinya bisa saja berakhir dalam 2 hari, [sehingga] eksposur yang didapat untuk brand tentu tidak akan sebaik yang bisa ditawarkan [oleh] sistem liga yang bisa berjalan setidaknya dalam waktu 1 bulan. Durasi yang lebih panjang ini juga memudahkan para sponsor untuk merancang campaign yang [dapat] berjalan [secara] beriringan bersama liga tersebut,” terang Edwin, yang telah merintis Bigetron Esports sejak tahun 2017 lalu.

Agus memiliki pendapat yang sedikit berbeda dalam perspektif ini. Menurutnya, perspektif bisnis ini bakal lebih sulit digeneralisir demi mengingat bahwa setiap perusahaan / sponsor mempunyai tujuan dan kondisi yang berbeda-beda. Untuk streaming platform, misalnya, sistem liga akan lebih baik karena dapat menghasilkan jam tayang yang lebih banyak. Sedangkan, untuk sponsor yang menggunakan marketing budget, mereka lebih bakal sensitif dengan timeline dari kompetisi.

Nah, bagaimana jika pengaruhnya dilihat dari sisi tim peserta (untuk Bigetron) dan event organizer (untuk Mineski)? Apakah kekurangan dari sistem liga?

Agus dan Mineski yang sudah menangani berbagai kompetisi, baik di Indonesia atau pun di tingkat internasional, mengatakan bahwa kesulitan dari sistem liga adalah mencari tempat / venue yang bisa digunakan untuk jangka waktu yang panjang.

Sedangkan, dari sisi peserta, Edwin mengungkap bahwa sistem liga lebih akan banyak menguras stamina dari para pemainnya. Para pemain yang bertanding di sistem liga harus memberikan sebanyak 80% dari waktunya pada setiap pekan untuk fokus berkompetisi. Hal ini berarti bahwa mereka jadi mempunyai waktu luang yang lebih sedikit. Sumber daya yang harus dikeluarkan oleh manajemen dalam mendukung para pemainnya juga menjadi lebih banyak. Walau pun, memang, tim jadi mempunyai lebih banyak konten untuk diproduksi dan menjadi keuntungan yang besar dari sistem liga.

Terakhir, bagaimana dampak sebenarnya dari sistem kompetisi ini ke ekosistem esports secara keseluruhan?

Edwin pun berkata, “Tentu, sangat positif. Sistem liga akan memperpanjang umur game yang nantinya juga berdampak pada umur [dari] ekosistem esports-nya. Tim dan sponsor pun akan lebih yakin dan percaya diri [untuk melakukan] investasi ke game yang [mempunyai] rencana jangka panjang.”

Di sisi lain, Agus juga menambahkan tentang pentingnya dua sistem kompetisi. “Sistem kompetisi baik liga atau pun turnamen itu sama baiknya. Menurut saya, sistem turnamen lebih terbuka dan memberikan lebih banyak kejutan, karena juaranya bisa ditentukan oleh tim mana yang bisa mendapatkan momentum selama kompetisi berjalan. Sedangkan, sistem liga lebih membutuhkan konsistensi untuk jadi juara. Bagi saya, baik sistem liga dan turnamen tetap penting untuk dijalankan kedua-duanya. Misalnya, di sepakbola, dalam satu musim, selalu ada liga profesional yang diselingi oleh sistem turnamen. Keduanya memiliki keunggulan dan fungsinya masing-masing dalam memelihara ekosistem secara keseluruhan,” tutup Agus.

Untuk mengetahui informasi terbaru mengenai PUBG Mobile Pro League Indonesia Season 1 dapat diakses melalui Instagram resmi PUBG Mobile https://www.instagram.com/pubgmobile_id/, https://www.instagram.com/pubgmobile.esports.id/, dan akun resmi Mineski Global Indonesia https://www.instagram.com/mineskiesports.id/.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top