REVIEW KOMIK FILM

Old Guard, Tentara-tentara Bayaran yang Tak Bisa Mati

Farmingkat   04 Aug 2020
Old Guard, Tentara-tentara Bayaran yang Tak Bisa Mati

Old Guard adalah salah satu film terbaru yang dirilis oleh Netflix di bulan Juli 2020, dengan Charlize Theron sebagai tokoh utamanya. Ia memerankan Andromache the Scythian, atau panggilan akrabnya: Andi. Andromache the Scythian sendiri memiliki asal-usul penamaan yang agak membingungkan. Andromache merupakan nama Yunani, sedangkan Scythian adalah bangsa pengembara dari Siberia, dua hal yang mestinya tak akan bertemu di zaman dulu. Andi dikenal sebagai pemimpin dari sekelompok tentara bayaran unik yang tak bisa mati. Banyak sekuens action yang sangat bagus dalam Old Guard, tapi film ini juga mampu menceritakan suka duka kehidupan dari orang yang bisa hidup lama, seperti rasa kesepian karena hidup sendiri, menyaksikan teman dan keluarga yang dicintai mesti meninggal lebih dahulu, dan bahkan bisa terlupa dengan orang-orang tersebut.

Kelebihan dari para Old Guard adalah tak bisa mati, atau lebih tepatnya, mereka bisa hidup kembali setelah mati dan menyembuhkan cedera yang diderita. Begitulah, mereka tidak kebal peluru dan tetap bisa merasakan bagaimana rasa sakit. Selain itu, kekuatan tambahan, atau mungkin lebih cocok disebut sebagai gangguan bagi mereka, adalah bisa bermimpi bila sesosok anggota baru muncul, dan mimpi tersebut bakal tetap terus dijalani sampai mereka bisa berkumpul. Di tahap mimpi ini, mereka mesti menemukan dan mencari anggota terbaru, yakni Nile Freeman, seorang Marinir Amerika yang sedang bertugas di Afghanistan.

Jika orang biasa ingin bisa hidup lama, maka mereka yang tak bisa mati ini malah menginginkan kematian yang permanen. Karena, tak bisa mati terkadang akan menimbulkan masalah tersendiri. Di Old Guard, hal ini ditunjukkan dalam sebuah flashback melalui Quynh (diperankan oleh Van Veronica Ngo, sebelumnya dikenal lewat peran Paige Tico, yang merupakan kakak Rose dari Star Wars Episode VIII: The Last Jedi), yang terperangkap di bawah laut, tak bisa keluar dari peti mati berbahan besi, dan terus-menerus menghadapi kematian.

Sutradara dari film ini, Gina Prince-Bythewood, memulai karirnya pada 20 tahun silam dengan sebuah kisah romantis yang bertema olahraga, Love & Basketball. Selama ini, Prince-Bythewood banyak menggarap film-film yang bertema romantis. Keahliannya dalam menjalin cinta kasih antara pasangan di depan layar tersebut terlihat dari pengembangan hubungan yang terjadi antara para Old Guard dan masalah internalnya. Sebagai pemimpin dan yang tertua, Andi kerap mempertanyakan tujuan hidup dan makna keabadian mereka. Joe (diperankan oleh Marwan Kenzari, sebelumnya dikenal lewat peran Jafar dari Aladdin versi live action) dan Nicki (Luca Marinelli), mereka bertemu di perang salib pada sisi yang berlawanan, dan saling membunuh berkali-kali antar satu sama lainnya, sampai mereka berdua pada akhirnya saling jatuh cinta. Booker, yang paling muda (sebelum Nile bergabung), yang mati di pihak yang kalah pada perang Napoleon, mempunyai keluarga, dan kesedihannya untuk menyaksikan satu per satu keluarganya meninggalkan dirinya. Semua anggota Old Guard adalah tentara sedari awal, tak ada yang merupakan pedagang, tukang roti, atau pun profesi lainnya.

Karakter pendukung lain yang patut dicatat adalah Coopley (diperankan oleh Chiwetel Ejiofor, sebelumnya dikenal lewat peran Operative dari Serenity (2005)), ex-operative CIA, yang mempekerjakan mereka untuk misi kemanusiaan guna menolong murid-murid sekolah yang diculik di Afrika. Hal itu dilakukannya karena Coopley mengagumi hasil kerja sebelumnya dari para Old Guard.

Pada misi pertama mereka, aroma Highlander-nya sangat keras terasa. Selain penggunaan berbagai senjata api modern, mereka juga mengunakan senjata tradisional. Joe, yang dalam kehidupan sebelumnya bernama Yusuf Al-Kaysani, dan Nicky, atau Nicolo dalam kehidupan sebelumnya, sama-sama memakai pedang yang mereka gunakan sewaktu pertama kali bertemu di perang salib. Andi mengunakan labrys, kapak bermata ganda dari Yunani Kuno, simbol dari para Amazon. Booker, anggota keempat, karena mati di zaman tentara modern maka dia sudah menggunakan senjata api.

Naskah film ini ditulis oleh Greg Rucka. FYI, ia juga yang bersama artis Leandro Feandro yang membuat komik Old Guard, yang menjadi sumber inspirasi utama dari film ini. Leandro sendiri juga tampil sebagai cameo di film ini. Sewaktu Joe membuat sketsa, tangan yang diperlihatkan sedang menggambar adalah tangan dari Leandro, berikut juga dengan sketsa yang digambarnya secara langsung. Untuk Rucka, Old Guard bukanlah karya pertamanya yang difilmkan. Komik pertama Rucka yang sudah diadaptasi menjadi film adalah Whiteout, diterbitkan oleh Oni. Selain itu, juga banyak hal pada serial Batwoman Season 1, yang diambil dari karyanya juga. Bersama-sama, Rucka dan Feandro sudah menerbitkan komik Old Guard 2, dan kini dalam proses pembuatan komik Old Guard terbaru. Adakah kemungkinan untuk dijadikan semacam franchise? Kita nantikan saja.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kelebihan dari film ini adalah sekuens action yang sangat bagus, sangat 'John Wick.' Ratusan tahun bersama-sama, tim Old Guard terlihat bergerak dengan harmonis. Ada perkelahian sewaktu Andi membujuk (atau menculik?) Nile untuk bergabung. Pertempuran seru pun terjadi di pesawat, dimulai dengan sapuan kaki, serangan bahu ala Bajiquan, dan teknik khas milik Andi, Yoko-sutemi-waza dari Judo. Adegan perkelahian di pesawat ini terlihat bagus karena kita tetap bisa melihat siapa yang berkelahi dan kemampuan mereka pun tampak seimbang. Sedangkan, pada adegan-adegan lainnya, mereka melawan tentara-tentara yang tak bernama, tak bermuka. Biasanya, di film action, selalu ada level boss, yang lebih jago dibanding lawan lainnya, atau paling tidak melawan karakter yang mempunyai nama. Di sini, lawan mereka adalah Merrick (diperankan oleh Harry Melling, sebelumnya dikenal sebagai Cousin Dursley dari franchise Harry Potter), CEO perusahaan farmasi dengan ambisi untuk menemukan alasan kenapa para Old Guard bisa hidup abadi. Tetapi, di markasnya, hanyalah ada satu ilmuwan, dan lebih dari 50 prajurit yang menjaga markas atau pun laboratoriumnya.

Filmnya sendiri, secara overall, bagus dari sisi action mau pun alur cerita. Ada awal, ada akhir, dan ada penutupan. Secara pribadi, sekuens action-nya bagus, tetap menarik untuk dilihat hingga berkali-kali. Sebagai penutup, jangan langsung pergi ketika film selesai, karena ada stinger atau adegan tambahan yang menyiratkan kemungkinan adanya sekuel (atau malah franchise?). Hal ini terutama karena stinger tersebut sesuai dengan versi komiknya.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top