REVIEW

Obsesi Dengar Tantangan UKM di tengah Pandemi, Ninja Xpress Rilis Laporan “Suara UKM Negeri 2020”

en19ma   19 Dec 2020
Obsesi Dengar Tantangan UKM di tengah Pandemi, Ninja Xpress Rilis Laporan “Suara UKM Negeri 2020”

Ninja Xpress, sebagai mitra UKM, terobsesi untuk mendengar dan memahami berbagai tantangan serta harapan dari para UKM lokal, yang bisnisnya terkena imbas pandemi COVID-19, dengan meluncurkan Laporan “Suara UKM Negeri 2020” bekerjasama dengan Markplus, dengan metode survey CATI kepada 400 UKM di Indonesia.

Pandemi COVID-19 tahun ini sangat memukul sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Menurut laporan Suara UKM Negeri 2020, sebanyak 64% usaha kecil dan menengah terkena dampak negatif akibat COVID-19. Sementara itu, berdasarkan data dari Kemenkop UKM, UKM memiliki kontribusi yang cukup signifikan terhadap pembentukan atau pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu sekitar 61,1%. Terhambatnya bisnis UKM, tentu saja, berimbas kepada turunnya perekonomian nasional.

“Sebagai mitra UKM, Ninja Xpress sejak awal telah menjalankan berbagai program dukungan pengembangan kapasitas UKM untuk mendorong keberlanjutan bisnis mereka selama pandemi. Kami terobsesi mendengar suara UKM negeri agar dapat berinovasi [dalam] menghadirkan program yang tepat guna dan tepat sasaran. Laporan ini kami harapkan dapat menjadi acuan, tidak hanya bagi Ninja Xpress, tetapi mitra UKM lainnya [juga] agar melakukan penyesuaian dengan kebutuhan serta permintaan yang ada di lapangan,“ tutur Ignatius Eric Saputra, Country Head Ninja Xpress.

Sekilas tentang Laporan Suara UKM Negeri 2020

Responden didominasi oleh usaha mikro dengan volume pengiriman yang relatif rendah di bawah 250 pengiriman per bulan (79%), dan sebanyak 97% memiliki channel online.

Sebagian besar pemilik usaha mikro adalah generasi milenial yang berdomisili di Jabodetabek dan Bandung dengan rata-rata pendapatan kurang dari 300 juta Rupiah (93%). Jika dipilah berdasarkan sektor bisnis, maka responden kebanyakan memiliki usaha di bidang fesyen, tekstil, dan aksesoris (58%), kuliner (15,3%), perawatan kulit dan kosmetik (8%), serta kesehatan (6,5%).

“Laporan ini mencakup berbagai macam tantangan yang dihadapi [oleh] UKM lokal di tengah pandemi dan masa kenormalan baru, khususnya dalam isu finansial, promosi, distribusi, dan pengembangan SDM yang penting untuk disimak oleh akselerator UKM,” ujar Nadya Prasetyo, Head of Automotive Transportation and Logistics Industry dari Markplus Inc.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 57% UKM mengalami masalah bisnis paling utama dalam penurunan persentase daya beli konsumen. Daya beli tersebut menyiratkan bahwa daya beli pelanggan yang secara tidak langsung telah membuat pendapatan bisnis jadi menurun, dan masalah ini terjadi hampir di semua lini industri.

Membahas masalah keuangan, dari seluruh responden, sebanyak 60% mengalami penurunan pendapatan, dan 50% memiliki kendala dalam keterbatasan modal untuk menjalankan usahanya. Sedangkan, dalam isu logistik, sejak pemberlakukan peraturan PSBB, sebanyak 45% UKM mengeluhkan waktu pengiriman menjadi lebih lama, dan 21% merasakan tantangan biaya pengiriman yang jadi semakin mahal.

Fakta menarik lainnya terkait pengembangan SDM, 40% UKM belum menyadari bahwa betapa pentingnya pengembangan SDM bagi bisnis mereka di tengah krisis pandemi yang terjadi.

“Kontribusi UMKM sangat besar bagi perekonomian negara, penyerapan tenaga kerja mencapai 97% dari total 120,5 juta tenaga kerja. Sektor usaha mikro merupakan sektor usaha [yang] paling lincah di industri, [yang] dapat beradaptasi dengan cepat dengan permintaan pasar. Kondisi ini membuat pengusaha-pengusaha membutuhkan bimbingan dari para pelaku usaha di industri digital dari berbagai sektor untuk membantu mereka, mentransfer ilmu yang aplikatif, agar bersama-sama mampu [untuk] mendongkrak kembali perekonomian nasional secara menyeluruh,” ungkap Luhur Pradjarto, Staff Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Suara UKM Negeri: Cuplikan Harapan atas Dukungan Eksternal

Untuk mengatasi beberapa masalah ini, pelaku UKM mengharapkan bantuan yang tepat dari pihak eksternal. Dalam hal pemasaran, sebanyak 57% UKM mengharapkan bantuan untuk melakukan promosi dengan menggunakan iklan Facebook/Instagram dan 56% menginginkan bantuan penggunaan influencer untuk mempromosikan produknya.

Terkait bantuan finansial, sebanyak 51% UKM mengharapkan bantuan berupa tambahan modal atau pinjaman modal usaha, dan 38% pemilik UKM dalam sektor fesyen menyatakan bahwa mereka butuh pinjaman modal usaha berbunga rendah.

Sedangkan, dari sisi distribusi, dikarenakan banyaknya bisnis yang mengandalkan layanan online, ternyata sebanyak 57% UKM mengharapkan diskon pengiriman dari layanan kurir langsung untuk konsumennya.

Tentu saja, yang paling menarik adalah fakta bahwa hampir semua UKM mengharapkan bantuan pendampingan percepatan bisnis untuk mengembangkan sumber daya manusianya. Program pelatihan dengan sistem mentoring adalah yang paling populer (53%). Jenis bantuan ini paling banyak dicari oleh industri kuliner dan perawatan pribadi. Strategi pemasaran serta keuangan menjadi topik terpopuler untuk program pelatihan.

“Di bisnis saya, ada Customer Service [sebanyak] 6 orang, dan sewaktu lockdown, harus bener-bener cepet muter otak gimana cara [untuk] menangani situasi ini. Bikin landing page juga harus beda, lebih relevan. Materi yang saya dapatkan melalui Program Aksilerasi sangat membantu, saya berharap ke depannya pelatihannya lebih dalam lagi, tidak hanya untuk desain dan materi promosi, tapi juga bagaimana branding serta menyampaikannya dengan baik dan tepat,” jelas Nirwana, pemilik usaha RumahVintage.id, yang merupakan salah satu peserta Program Aksilerasi tahun 2020.

Dari jabaran fakta-fakta di atas, Ninja Xpress akan berinovasi dalam menyesuaikan program dukungan kepada UKM, terutama melalui Program Aksilerasi yang ke depannya akan dikemas menjadi lebih tepat guna dan tepat sasaran, serta menjangkau lebih banyak UKM di seluruh pelosok negeri.

“Program Aksilerasi selanjutnya akan dilaksanakan pada tahun 2021 dengan menjangkau lebih banyak UKM di Indonesia. Di samping itu, kami berharap kolaborasi masif antar lembaga dapat terus berjalan dan berkembang agar dapat mendorong upaya percepatan ekonomi nasional, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi digital sesegera mungkin,” tutup Andi Djoewarsa, CMO Ninja Xpress.

Tidak hanya itu, Ninja Xpress dengan obsesi untuk mengantarkan sukses bagi UKM negeri juga ingin menginspirasi serta mengajak akselerator UKM lain untuk dapat mendengar suara UKM negeri ketika memformulasikan program-program dukungan UKM yang akan mereka jalankan di masa mendatang.

“Berangkat dari semangat yang sama dengan Ninja Xpress, sebagai penggiat UKM, saya ingin mengajak akselerator lainnya untuk bersama-sama menciptakan kolaborasi yang masif dalam mendorong kebangkitan UKM lokal. Ujung-ujungnya, gerakan ini dapat mendukung program pemerintah dalam upaya percepatan ekonomi nasional dan memacu pertumbuhan ekonomi digital Indonesia sesegera mungkin,” pungkas dr. Tirta, penggiat UKM yang dinobatkan sebagai presiden UKM Indonesia oleh Ninja Xpress.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top