REVIEW

Asyiknya Taklukkan Dunia dalam The Battle of Polytopia

Andy Chan   07 Jul 2017
Asyiknya Taklukkan Dunia dalam The Battle of Polytopia

Konsep "menaklukkan dunia" sudah pasti telah dikenal oleh para fans game-game yang bergenre 4X (X-Plore, X-Pand, X-Ploit, dan X-Terminate). Dalam game-game seperti ini, pemain bakal diberikan sebuah kerajaan, faksi, atau pihak yang berkompetisi dengan pihak lain dalam sebuah lomba untuk menguasai dunia. Nah, studio indie Midjiwan mempersembahkan game mobile pertama mereka dengan genre 4X ini yang dikemas dengan sebuah judul unik "The Battle of Polytopia."

Dalam The Battle of Polytopia, pemain bakal diberikan pilihan berupa suku, dan bertugas untuk menaklukkan dunia dengan menggunakan suku tersebut sambil membasmi suku-suku lainnya yang juga bertujuan sama. Tersedia empat macam suku untuk dipilih, yakni Xin-xi yang mewakili Asia, Imperius yang mewakili Roma, Bardur yang mewakili Viking serta Oumaji yang mewakili Mesir.

Permainan bakal berjalan secara turn-based, dimana pemain bisa menggerakkan unit yang dimilikinya ke posisi yang diinginkan, selama unit tersebut masih bisa bergerak. Grid dalam peta akan terbagi secara kotak-kotak. Dan, setiap kotak tersebut hanya bisa diduduki oleh satu unit saja. Setiap turn, pemain mendapatkan uang (yang direpresentasikan dengan tanda bintang) yang sesuai dengan jumlah daerah kekuasaannya, dan uang ini bisa digunakan untuk segala macam hal, termasuk untuk pembangunan, riset, dan menciptakan unit perang. Ya, boleh dibilang, The Battle of Polytopia telah menyederhanakan sistem sumber daya yang kerap digunakan dalam serial game Civilization.

Di sini, tidak ada unit macam Settlers di Civilization yang bisa digunakan untuk membuat sebuah kota. Jadi, untuk melakukan ekspansi, pemain harus menjelajah peta dan menemukan desa-desa tribal yang harus diduduki dan diubah menjadi wilayah kekuasaan sendiri. Peperangan akan terjadi apabila pemain bertemu dengan pemain lain dan melakukan serangan. Yang unik untuk The Battle of Polytopia ini adalah kemampuan beberapa unit untuk menyerang dari jarak jauh, seperti unit panahan dan catapult. Jadi, tidak perlu mengambil resiko untuk menyerang dalam jarak dekat.

Ada dua macam permainan dalam The Battle of Polytopia. Yang pertama adalah Perfection, sebuah mode klasik dimana pemain diberikan waktu sebanyak 30 turn saja untuk mendapatkan skor setinggi-tingginya, baik dengan cara menghancurkan lawan mau pun dengan mengembangkan wilayah kekuasaan. Setelah menyelesaikan 30 turn ini, pemain akan diadu skornya dengan seluruh pemain di berbagai belahan dunia. Setelahnya, ada mode kedua, yakni Domination, dimana tujuan akhirnya adalah untuk menghancurkan seluruh lawan dan menguasai dunia. Mode ini tidak memiliki batas waktu, dan bisa dimainkan dengan santai.

The Battle of Polytopia tampil dengan grafis poligon yang unik, seperti halnya game PC di jaman retro. Animasi peperangannya sangat minim, dengan tampilan peta dunia yang statis namun cukup representatif. Masing-masing suku akan memiliki desain bangunan yang unik, dan mempunyai lagu tema yang unik juga, sehingga ada insentif tersendiri untuk mencoba-coba setiap suku yang ada. Juga, ada fitur yang keren, dimana game-nya bisa dimainkan secara landscape atau pun portrait.

Asyiknya, The Battle of Polytopia merupakan salah satu game free-to-play yang bisa dimainkan sebebas-bebasnya tanpa ada gangguan iklan atau pun yang namanya stamina. Bahkan, game-nya tidak membutuhkan koneksi Internet untuk dimainkan, menjadikan dominasi dunia Anda menjadi nyaman dan tenang. Namun sayangnya, game-nya memiliki mikrotransaksi yang bakal mengunci semua suku lain, kecuali keempat suku pertama, termasuk suku yang penduduknya bukanlah manusia, macam Aquarion yang mewakili ras akuatik dengan unit khusus kura-kura.

Kalau boleh dibilang, The Battle of Polytopia ini merupakan game Civilization yang sangat disederhanakan, dan dibuat dengan khusus agar bisa dimainkan secara Blitz, alias sangat cepat. Tidak adanya fitur diplomasi menjadikan semua suku lain sebagai lawan, tidak ada yang bisa berteman. Hal ini memastikan game-nya bisa berjalan dengan cepat sampai habis. Apalagi, pohon teknologi yang diberikan cukup sederhana sehingga bisa mencapai titik puncaknya dalam waktu yang lumayan singkat.

Selain itu, ada fitur unik untuk memainkan The Battle of Polytopia secara multiplayer tanpa koneksi alias offline, yaitu dengan sistem hot-seat yang di sini disebut sebagai "Pass&Play," yang tentu saja berarti bahwa Anda bakal memberikan ponsel kepada pemain selanjutnya apabila Turn sudah selesai. Ditambah dengan map yang selalu diacak setiap kali main, game mobile ini sudah pasti memiliki replay value yang tinggi.

Kekurangannya adalah terbatasnya suku yang tersedia apabila memainkan game-nya secara free-to-play tanpa membeli suku lain, karena hal ini berarti bahwa Anda hanya bisa memainkan game-nya untuk melawan tiga suku saja, dan ukuran peta pun menjadi tidak terlalu luas. Sayang sekali, padahal kita bisa melihat ada sampai 6 lawan yang tersedia di layar setup, bahkan sepertinya bisa lebih. Selain itu, pohon teknologi yang terbatas menjadikan unit paling kuat di game mobile ini masihlah terbatas di abad pertengahan saja. Tidak ada unit yang modern, seperti pesawat atau pun senjata api.

Apabila Anda termasuk penggemar serial game Civilization yang menginginkan keberadaan game 4X sederhana dan cepat kelar, maka The Battle of Polytopia yang berukuran hanya sekitar 58MB ini merupakan pilihan yang tepat untuk dipasang di ponsel Anda.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top