NEWS

App Annie Retrospective 2017

en19ma   28 Jan 2018
App Annie Retrospective 2017

App Annie, perusahaan penyedia data dan penelitian pasar aplikasi, telah merilis laporan tahunan Retrospective 2017 yang mengungkap tren-tren utama pendorong pertumbuhan pasar aplikasi pada tahun tersebut, dan beragam perkiraan untuk ditindaklanjuti di tahun 2018.

Poin-poin penting mengenai Indonesia dapat ditemukan dalam media alert ini.

Sebuah perubahan besar terjadi di pasar konsumen di 2017. Perusahaan-perusahaan di industri seperti industri keuangan, travel, dan video streaming tengah melakukan restrukturisasi besar agar mereka dapat beradaptasi dengan pasar dimana aplikasi telah mengambil peran yang signifikan dalam layanan dan operasi bisnis.

Contoh kasus: Beberapa perusahaan mencatat, lebih dari setengah penjualan yang mereka raih dikontribusi saluran perangkat mobile, dimana peluang untuk membeli sesuatu 3 kali lebih besar terjadi di saluran aplikasi daripada browser seluler. Sebagai contoh, di industri keuangan dan ritel, kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan aplikasi telah mengurangi peran dari layanan person-to-person. Tidak dapat dipungkiri, aplikasi telah mengambil peran lebih besar di banyak industri.

“Sejak Apple meluncurkan App Store satu dekade yang lalu, yang memercik revolusi aplikasi ponsel pintar, aplikasi terus merevolusi berbagai industri pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga [tahun] 2017. Peran aplikasi bukan lagi sekedar ‘tambahan.’ Aplikasi telah menjadi bagian integral dari layanan dan penjualan,” kata Jaede Tan, Regional Director, App Annie. “Dengan revolusi yang terjadi, analisa dan informasi yang terpecaya telah menjadi kebutuhan yang krusial bagi perusahaan agar mereka bisa memaksimalkan peluang di ekonomi aplikasi.”

Poin-poin penting dalam laporan:



Pasar aplikasi kian matang, peluang monetisasi meningkat

  • Jumlah aktifitas mengunduh aplikasi secara global telah melebihi 175 miliar. Dibandingkan dengan tahun 2015, jumlah pengguna yang mengunduh aplikasi naik sebesar 60%.
  • Pada periode yang sama, jumlah waktu yang pengguna habiskan dalam menggunakan aplikasi naik 30% menjadi 3 jam pada tahun 2017. Perhatian konsumen terhadap aplikasi terus berkembang dan telah menjadi saluran paling penting bagi interaksi para konsumen. Di Indonesia, rata-rata pengguna menghabiskan 240 menit di aplikasi –merupakan yang tertinggi di antara semua pasar yang dianalisa oleh App Annie.
  • Pengeluaran konsumen di toko aplikasi telah naik dua kali lipat dalam dua tahun terakhir menjadi lebih dari $86 miliar pada tahun 2017.
  • Pertumbuhan pengeluaran di negara berkembang akan didorong kepemilikan ponsel pintar dan aplikasi, dan kemampuan aplikasi untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar di ekonomi yang sudah matang.

Empat dari lima negara dengan jumlah unduhan aplikasi dan pengeluaran konsumen terbanyak merupakan negara berkembang –China, India, Brasil, dan Rusia

  • India telah menyalip AS untuk menduduki peringkat kedua berdasarkan jumlah unduhan pada tahun 2017. Penggunaan aplikasi di negara tersebut terdorong oleh subsidi dan akses yang tak terbatas untuk layanan 4G, yang diperkenalkan sejak bulan September 2016.
  • Indonesia menduduki peringkat ke-6 berdasarkan jumlah unduhan, meningkat 71% dibandingkan 2 tahun sebelumnya.
  • Pengeluaran konsumen di negara berkembang tumbuh sebesar dua digit dalam dua tahun terakhir, dipimpin oleh China.
  • Pasar di Indonesia menempati peringkat ke-24 berdasarkan jumlah pengeluaran konsumen, meningkat 86% dalam 2 tahun terakhir dan bernilai $280 juta.

Penggunaan aplikasi mencapai rekor baru –pengguna ponsel pintar mengakses hampir 40 aplikasi per bulan

  • Di hampir semua negara, pengguna memiliki lebih dari 80 aplikasi di ponsel pintar mereka.
  • Tingkat penggunaan yang tinggi akan menghasilkan interaksi yang lebih langsung dengan konsumen dan customer lifetime value yang lebih baik.

Penggunaan aplikasi ponsel di seluruh dunia telah melampaui penggunaan browser seluler

  • Di pasar-pasar besar, pengguna ponsel pintar menghabiskan 7 kali waktu lebih banyak di aplikasi bawaan ponsel (native apps) dibandingkan di browser seluler, dan mengakses aplikasi tersebut 13 kali lebih sering.
  • Orang Indonesia menghabiskan 88% waktunya di aplikasi dibandingkan di browser seluler.

Gangguan aplikasi di vertikal terus mendefinisi ulang kehidupan kita sehari-hari

  • Fintech:

    • Tren cryptocurrency telah meningkatkan jumlah aplikasi cryptocurrency, dan meningkatnya jumlah aplikasi pembayaran di Asia Pasifik tengah menciptakan masyarakat cashless di negara berkembang.
    • Aplikasi menciptakan masyarakat cashless di pasar negara berkembang di Asia. Di Indonesia, aplikasi keuangan mengalami pertumbuhan 205% dalam dua tahun terakhir.
    • Di Indonesia, perusahaan penyedia layanan transportasi, logistik, dan pembayaran Go-Jek berada di garis depan tren cashless ini, dengan adanya integrasi Go Pay ke dalam aplikasinya. Jaringan pengemudi Gojek yang berjumlah lebih dari 250.000 turut memberikan kontribusi besar di layanan ini dimana seorang pengguna Go-Jek dapat melakukan deposit atau top up secara langsung melalui pengemudi.
  • Ritel:

    • Telah terjadi peningkatan sebesar 70%-210% dalam jumlah waktu yang dihabiskan konsumen di aplikasi ritel, pembiayaan-pembiayaan yang besar telah dikucurkan kepada peritel-peritel di Asia Tenggara.
    • Asia Tenggara adalah pasar paling prospektif berikutnya bagi mobile commerce. Perputaran dana yang besar dan ekspansi untuk ritel terpusat di sini.
    • Dalam bidang ritel, 3 aplikasi belanja teratas di Indonesia adalah Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak berdasarkan Pengguna Aktif Bulanan/Monthly Active Users (MAU) di ponsel pintar pada kuartal ke-4, tahun 2017
  • Media Sosial:

    • Dalam periode yang sama, aplikasi-aplikasi Facebook masih mendominasi di beberapa negara. Instagram melaporkan pertumbuhan 70% dalam waktu yang dihabiskan pengguna di aplikasinya berkat fitur-fitur baru. Telegram mengalami peningkatan sebesar 75% berdasarkan Pengguna Aktif Bulanan/Monthly Active Users (MAU) di periode yang sama.
    • Media sosial berlaku masif secara global dengan aplikasi Facebook yang mendominasi banyak pasar termasuk Indonesia. 3 aplikasi teratas untuk media sosial di Indonesia berdasarkan MAU ponsel pintar di tahun 2017 adalah WhatsApp Messenger, Facebook, dan Instagram.
  • Media & Hiburan:

    • Pembelanjaan konsumen meledak dan semua pasar telah mencatat pertumbuhan sebanyak 3 digit untuk belanja konsumen dalam dua tahun terakhir karena adanya aplikasi baru, pengguna baru, dan metode monetisasi yang baru muncul.
    • Dalam aplikasi hiburan, Indonesia mencatat pertumbuhan 164% dalam dua tahun terakhir.
  • Video Streaming:

    • Broadcaster online pertama seperti Netflix memaksa TV tradisional untuk bersaing dengan layanan online, dengan BBC yang meluncurkan layanan iPlayer untuk dapat terus bersaing, misalnya. Di Indonesia, aplikasi video streaming berdasarkan Pengguna Aktif Bulanan/Monthly Active Users (MAU) adalah: YouTube, HOOQ, Viu, iflix, Miv.
  • Top Apps di Indonesia:

    • Berdasarkan Pengguna Aktif Bulanan/Monthly Active Users (MAU): WhatsApp Messenger, Facebook, Instagram, LINE, dan BBM.

    • Berdasarkan Jumlah Unduhan: Facebook, WhatsApp Messenger, Facebook Messenger, UC Browser, dan SHAREit.

    • Berdasarkan Belanja Konsumen: LINE, Sing! Karaoke, BIGO LIVE, OLX Indonesia, dan Netflix.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top