REVIEW

Getting Over It, Game Mengesalkan karya Bennett Foddy

Anduril   12 Jan 2018
Getting Over It, Game Mengesalkan karya Bennett Foddy

Apakah kalian pernah memainkan QWOP? Kalau sudah, kemungkinan besar kalian sudah tua dan mengenal salah satu game paling menyebalkan di dunia ini. Sayangnya, walaupun QWOP sempat masuk Museum of Modern Art di New York City, tidak banyak yang mengenal nama Bennet Foddy. Sampai akhirnya beliau merilis game anyar yang berjudul Getting Over It.

GettingOver It berputar di sekitar pria botak dengan nama Diogenes duduk di sebuah kuali dan memegang palu Yosemite. Palu ini bisa dia gunakan untuk mencengkeram benda dan bergerak dengan sendirinya. Dengan menggunakan mouse atau touchscreen, pemain ditantang untuk memindahkan Diogenes dari lembah sempit hingga ke wilayah kota yang penuh dengan sampah.

Permainan ini disertai dengan komentar oleh Bennett Foddy yang membahas berbagai topik filosofis. Komentar tersebut juga memberikan kutipan yang berkaitan dengan kekecewaan dan ketekunan saat kemajuan signifikan hilang oleh pemain. Jadi jangan heran kalau dia akan memberikan berbagai respon pada kegagalan yang kalian alami.

Selain respon, Bennett Foddy juga akan menceritakan filosofi di balik Getting Over It. Bagi beliau Getting Over It adalah sebuah game B, di mana dia membuat game tersebut hanya karena menyukai proses pembuatannya dan memang tidak bermaksud memoles game tersebut hingga sempurna.

Selain itu beliau juga percaya kalau tantangan dalam kebanyakan game adalah semu, kamu bisa melewati semua tantangan yang disediakan dengan cara melakukan grinding, menggunakan metode yang benar, atau seiring waktu, hal ini sangat berbeda dengan game yang dia buat.

Permainan meningkat dalam kesulitan saat kamu semakin maju mendaki gunung. Sesuai dengan penjelasan di dalam game, game ini tidak memiliki save point tapi kamu bisa menyimpan lokasi terakhirmu dengan cara keluar dari game. Semua kesalahan atau kemajuanmu akan otomatis tersimpan tanpa terkecuali.

Kamu selalu berada pada risiko konstan kehilangan sebagian atau seluruh kemajuan yang sudah kamu gapai. Hal ini terjadi karena game ini memasukan berbagai hukum fisika momentum plus palu dan kontrol yang sengaja dibuat payah di dalamnya.
Selain kontrol, kamu juga akan dihadapkan dengan permukaan yang tidak selalu rata sehingga mempengaruhi sudut kemiringan kuali yang kamu duduki dan berbagai halangan minor lainnya.

Permainan berakhir ketika kamu mencapai titik tertinggi yang ada dan kemudian memasuki ruang. Sebuah pesan akan bertanya pada pemain apakah mereka sedang merekam permainan yang mereka lalui? Bila pemain menunjukkan tidak, Getting Over It akan memberikan akses ke chatroom yang dihuni oleh pemain lain yang telah menyelesaikan game ini.

Sampai detik ini kami masih berusaha memanjat gunung bersalju yang menurut orang-orang adalah bagian paling sulit dari game ini. Jujur saja, kami sudah berkali-kali hendak membanting iPhone yang kami gunakan untuk mencoba Getting Over It. Pada dasarnya game ini memang diciptakan untuk membuat kamu kesal dan penasaran di saat yang bersamaan.

Versi iOS dari Getting Over It memiliki tampilan yang lebih sederhana ketimbang versi PC-nya. Tapi segala detil yang dibutuhkan tetap ada di dalamnya. Getting Over It dihargai US$5, sebuah harga yang sangat murah untuk masterpiece yang menyebalkan.

Artikel Terkait
KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top