NEWS TIPS

Beginilah Cara Google Amankan Android dari Berbagai Serangan

Conny   13 Oct 2017
Beginilah Cara Google Amankan Android dari Berbagai Serangan

Dengan jumlah pengguna yang sudah menyentuh angka 2 miliar, Android pun dapat dikatakan telah menjadi sistem operasi paling besar dan terpopuler di berbagai belahan dunia. Namun, di sisi lain, hal itu kerap menjadikan platform Google tersebut sebagai sasaran program jahat, malware, atau pun virus.

Seperti yang diketahui pada awal tahun 2017 ini, ada sekitar 25 ribu aplikasi Android yang terjangkit. Menyadari tanggung jawabnya, Google pun tak ingin tinggal diam dan menyiapkan sejumlah cara demi menangkal agar serangan yang serupa atau berwujud lain tidak sampai terjadi lagi di kemudian waktu.

"Karena Android banyak penggunanya, Google melakukan peningkatan keamanan. Ini semua demi keamanan pengguna," kata Adrian Ludwig, Android Security Director untuk Google di saat menggelar video conference dengan pihak media di beberapa kantor Google di Asia Tenggara, Selasa (10/10/2017).

Raksasa pencarian internet itu mengakui bahwa mereka telah merekrut banyak sumber daya manusia yang ahli dalam bidang keamanan untuk terus mengamankan Android, yang berprinsip open source itu, dari berbagai macam serangan cyber. Dikatakan lagi, bahwa mereka ini ditempatkan di berbagai negara.

"Di satu sisi, open source memiliki keuntungan bahwa kita bisa menciptakan teknologi yang lebih baik dengan berkolaborasi bersama yang lain," jelas Ludwig. "Kelemahannya, orang bisa memanfaatkan hal itu untuk hal buruk, misalnya membuat malware untuk menyerang bahkan mencuri data pengguna."

Menurut Ludwig, tugas yang diemban para teknisi sistem keamanan Android sangat berat. Perlu diingat bahwa sistem operasi dengan icon robot hijau tersebut bukanlah hanya berjalan di smartphone saja, tetapi juga perangkat-perangkat lainnya selama mengadopsi sistem operasi Android.

"Kami bekerjasama dengan perusahaan yang mengadopsi sistem operasi kami. Perusahaan sistem keamanan mengawasi ancaman malware atau sistem keamanan terhadap perangkat Android," imbuh Ludwig, yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai seorang staff di Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Ia menyebutkan langkah pertama dari Google adalah menyiapkan sistem keamanan, lalu melakukan analisa bersama-sama dengan perusahaan sistem keamanan terhadap bentuk serangan yang terdeteksi.

Lantas, Google akan menyebarkan aplikasi serta sistem keamanan tadi lewat vendor, atau OEM (Original Equipment Manufacturer) yang menciptakan perangkat, agar bisa membantu untuk menyebarkannya.

Menyoroti populernya beraneka perangkat dengan harga terjangkau yang menggunakan sistem operasi Android, Ludwig menegaskan bahwa pihak Google akan selalu mengingatkan vendor untuk memberikan update atau pembaruan sistem hingga merambah ke smartphone entry level.

"Kami tidak mau sistem operasi kami jadi target serangan malware yang berbahaya bisa menginfeksi perangkat lainnya. Google pun sudah menyiapkan aplikasi sistem keamanan khusus Android bernama Google Play Protect," klaim Ludwig lebih lanjut dalam sesi tanya jawab.

Diumumkan di acara Google I/O 2017, Google Play Protect mulanya hanya dihadirkan pada perangkat Android One, semisal Nexus, Pixel, dan Xiaomi Mi A1 yang baru-baru ini dirilis. Keberadaannya ditujukan untuk menjaga sistem Android dari aplikasi yang mencurigakan dan mengancam keamanan perangkat.

"Google Play Protect dapat menemukan ancaman dan ketika menemukan akan langsung menanganinya seketika itu," ujar Ludwig. Fitur ini sendiri sudah dapat dilihat di bagian My Apps & Games di Play Store. Atau, juga bisa ditemukan dengan pergi ke Settings, dan mencarinya di bagian Security and Location.

Ludwig mengklaim bahwa Google Play Protect saat ini sudah tersedia di dua miliar perangkat Android di berbagai belahan dunia. Tiap harinya, fitur tersebut akan secara rutin memindai keamanan dari satu miliar perangkat Android dan mengecek sebanyak 50 miliar aplikasi.

"Google Play Protect tersedia dari perangkat Gingerbread hingga Oreo," papar pria lulusan University of California, Berkeley itu. Dengan begitu, fitur ini dijamin menjamah semua perangkat Android, mengingat fragmentasi pada sistem operasi di bawah Gingerbread --seperti Eclair dan Froyo-- sudah begitu tipis.

Selain mengerahkan implementasi kecerdasan buatan dalam machine learning, perusahaan yang berbasis di Mountain View (California, AS) ini turut membuka API (Application Progamming Interface) untuk membantu peningkatan keamanan Android.

Seperti yang kerap diklaim oleh Google, machine learning tadi dapat menganalisis dengan lebih mendalam dan cepat. Sehingga, akan lebih efektif mengatasi ancaman dan mengindentifikasi risiko yang baru. Namun, Langkah Google tidak sampai di situ saja demi mengamankan Android.

Dan, seperti yang disebut tadi, mereka pun mengembangkan ekosistem program keamanan. Begitulah, Google menggandeng pengembang aplikasi, pembuat perangkat, dan peneliti keamanan. "Kami sampai memberikan rewards bagi yang berhasil menemukan celah keamanan di Android," ungkap Ludwig.

"Sejauh ini, sistem operasi Android sendiri masih sangat aman, dari 2 miliar lebih perangkat Android hanya ada 1,5 persen saja yang terinfeksi malware di tahun lalu," paparnya menyoal keamanan Android.

Tips untuk Menjaga Perangkat Android Bisa Tetap Aman

Meski pun Google sudah menyiapkan beragam pertahanan untuk menangkal serangan cyber di Android, tapi kita sebagai pengguna juga mempunyai peranan yang besar dalam menjaga perangkat berbasis Android yang digunakan kita sendiri untuk tetap aman.

Lebih lanjutnya, Ludwig pun membagikan beberapa tips agar perangkat Android milik para pengguna bisa tetap aman tanpa terkena serangan, atau paling tidak, meminimalisir dampak yang mungkin bakal terjadi jika sampai terjadi serangan terhadap perangkat mereka. Berikut ini, adalah lima poin yang dijabarkannya.

Pertama adalah penggunaan lock screen. Ini untuk lebih menjaga privasi agar tidak semua orang bisa membuka ponsel Anda. Ada berapa metode yang bisa dipilih, yang termudah adalah password atau pattern. Tapi, banyak ponsel yang dewasa ini telah dilengkapi sensor sidik jari yang dirasa lebih aman.

Kedua adalah mengaktifkan fitur backup data. Ada baiknya bagi Anda untuk tidak mengabaikan poin ini, dan bisa meluangkan waktu untuk melakukan backup data secara rutin. Sehingga, ketika harus meng-update Android, berganti ROM, atau pun terkena serangan, tidak sampai kehilangan data-data penting.

Ketiga adalah mengunduh aplikasi dari marketplace yang terpercaya, seperti Play Store yang tentunya paling direkomendasikan. Sebab, aplikasi yang ada di sana sudah disaring dengan Google Play Protect tadi. "Jika mengunduh di luar Play Store, kemungkinan [akan] sepuluh kali lebih rentan," tekan Ludwig.

Keempat adalah memastikan Google Play Protect telah terpasang dan menyalakan fitur Find My Device. Adanya Google Play Protect guna menjaga sistem Android dari aplikasi yang mengancam keamanan. Sementara Find My Device untuk membantu pelacakan posisi ponsel ketika hilang atau pun terselip.

Lewat fitur ini, kita juga bisa mengunci smartphone agar tidak diakses orang lain. Terpenting dari Find My Device, kita dapat menghapus data dalam ponsel ketika hilang, sehingga tak ada pihak yang menyalahgunakan data yang tersimpan dalam perangkat.

Terakhir adalah mengaktifkan fitur two-factor authentication untuk bermacam layanan dari Google. Dengan menggunakan fitur ini, maka Google akan secara langsung menginformasikan ke ponsel atau pun e-mail bilamana ada yang berusaha menerobos sistem keamanan perangkat.

KOMENTAR & SHARE ARTIKEL
JurnalApps
Jurnal Apps adalah website media yang fokus dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan aplikasi mobile. Jurnal Apps berisi informasi review, bedah produk, berita terbaru dan video aplikasi untuk mobile.
Hubungi Kami

Menara Anugrah 20th Floor - Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot 8.6-8.7. Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan 12950. Indonesia

+62 21 5785 3978

redaksi@jurnalapps.co.id

Find us on social media
Add Friends
To Top